Tampilkan postingan dengan label Kesesatan Syi'ah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesesatan Syi'ah. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Februari 2014

Jawaban Syubhat Syiah (12)



Oleh: Mamduh Farhan al-Buhairi

Syubhat: Yang menguatkan bahwa syi’ah adalah kelompok yang benar adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa aalihi:
«إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّايَاتِ السُّودَ خَرَجَتْ مِنْ قِبَلِ خُرَاسَانَ فَأْتُوهَا وَلَوْ حَبْوًا، فَإِنَّ فِيهَا خَلِيفَةَ اللَّهِ الْمَهْدِيَّ»
“Jika kalian melihat bendera-bendera hitam yang keluar dari arah Khurasan, maka datangilah ia sekalipun dengan merangkak, karena di dalamnya terdapat khalifah Allah, yaitu al-Mahdi.” Sedangkan penduduk Khurasan adalah penduduk Iran, hadits tersebut telah dishahihkan oleh ulama kalian; Imam Dzahabi dan Ibnul Qayyim.
Jawab: Percayalah kepada saya, kami di majalah Qiblati akan bersikukuh untuk memberikan sebuah hadiah sekalipun pada saat sulit kepada seorang syi’ah yang jujur. Telah tetap dengan dalil tersebut bahwa seorang syi’ah itu tidak akan menjadi seorang syi’ah kecuali saat dia menjadi pendusta, atau orang bodoh. Sesungguhnya riwayat yang telah Anda sebutkan dalam pertanyaan Anda tersebut tidak sah penisbatannya kepada Nabi i. Saya berharap Anda menjadi seorang yang jujur saat Anda menyebutkan para ulama tersebut saat menyebut hadits itu dalam kitab-kitab mereka, mereka menyebut hadits itu dari sisi bahwa hadits itu tidak shahih dari Nabi i, dan bukan seperti yang Anda inginkan untuk membuat kerancuan atas manusia.
Imam adz-Dzahabi berpendapat bahwa itu adalah hadits mungkar, saat beliau menyebutkan hadits tersebut dalam Siyar al-‘A’lam (6/132) dia berkata, ‘Ahmad bin Hanbal berkata, ‘Haditsnya (perawi) dalam (hadits) rayah (bendera-bendera) tidak bernilai sesuatupun.”
Imam Ibnul Qayyim j dalam al-Manarul Munif (150) berkata, ‘Dalam sanadnya terdapat Yazid bin Abi Ziyad, dia adalah seorang yang buruk hafalannya, kacau pada akhir usianya, dan memalsu uang.’
Maka bagaimana Anda mengklaim bahwa adz-Dzahabiy dan Ibnul Qayyim telah menshahihkan hadits tersebut?
Kemudian siapa yang telah berkata kepada Anda bahwa negeri Khurasan dalam riwayat ini yang dimaksud adalah Iran?
Negeri Khurasan dalam sejarah masa lalu terbentuk dari sejumlah kota, yaitu, Naisabur, Herat, Merw, dan Balkh. Dan tidak ada hubungan yang menggabungkan negeri Persia dan Khurasan. Negeri Persia memiliki batas-batas yang telah diketahui sekalipun bagian utara dari negeri Khurasan masuk dalam batas Iran saat ini. akan tetapi Khurasan secara umum ada pada Negara Turkmenistan, dan Afghanistan. Bolehlah Anda kembali kepada at-Thobari dalam kitabnya Tarikhul Ummam wal Muluk, dan itu merupakan kitab sejarah terpenting yang menetapkan wilayah dan negeri-negeri agar Anda mengetahui hakikatnya.
Saya akan memberikan kepada Anda sebuah dalil kuat yang menetapkan bahwa negeri Khurasan bukanlah Persia. Yaitu bahwa Nabi i menyebut Negeri Persia secara jelas dalam hadits:
تَغْزُونَ فَارِسَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ
“Kalian akan memerangi Persia, lalu Allah menundukkannya.” (HR. Ahmad)
Maka hadits ini menunjukkan bahwa Negeri Persia adalah Negara lain, dan Khurasan adalah negeri lain lagi yang berbeda. Saya memohon hidayah kepada Allah untuk kami dan Anda.

Syubhat: Kalian ahlussunnah mengekalim bahwa kalian memiliki empat sumber rujukan dalam pensyariatan. Yaitu al-Qur`an, as-sunnah, Qiyas, dan ijtihad. Sekalipun demikian, kami tidak menemukan bahwa dalam pemilihan kalian terhadap kekhalifahan Abu Bakar, kalian tidak mengambil sumber-sumber itu?
Jawab: pertama, saya ingin meluruskan ucapan Anda, bahwa sumber pensyariatan yang empat itu adalah al-Qur`an, as-Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Adapun ijtihad maka itu diperselisihkan dan bukanlah termasuk dalil-dalil yang disepakati.
Demikian pula wajib bagi Anda untuk mengetahui bahwa yang wajib dipegang erat oleh kaum muslimin adalah al-Qur`an dan sunnah, keduanya adalah dua wahyu yang diturunkan dari langit. Imam as-Syafi’i j berkata, ‘Setiap ucapan, dalam segala keadaannya, tidaklah mewajibkan sesuatu kecuali dengan (penguat) al-Qur`an, atau sunnah Rasulullah i. Dan selain keduanya maka mengikuti keduanya.’ (Jima’ul ‘Ilmi (11))
Kemudian, para ulama beristinbath dari kedua sumber ini dengan sebuah landasan lain yang diatasnyalah hukum-hukum itu memungkinkan untuk dibangun. Para ulama menyebut nama sumber syariat itu adalah Ijma’ dan qiyas.
Seluruh sumber-sumber hukum yang empat itu telah diambil ibrahnya saat pemilihian Abu Bakar t sebagai seorang khalifah bagi kaum muslimin di Tsaqifah Bani Sa’idah.
Al-Qur`an yang mulia telah memuji Abu Bakar t, dan dalam sunnahpun terdapat nash yang menunjukkan  kekhilafahan Abu Bakar t.
Dalil-dalil sunnah telah datang lebih dulu dalam menetapkan kekhilafahan Abu Bakar, dan tidak adanya nash akan kekhilafahan selainnya. Dengan ini pula kitab-kitab Syi’ah berbicara selain kitab-kitab sunnah. Yang saya maksud adalah bahwa Nabi i tidak memberikan nash atas Ali t sebagaimana nash atas Abu Bakar t.
Dan Ijma’, telah terjadi, seluruh kaum muslimin telah membaiat Abu Bakar dengan Ijma’ (sepakat bulat). Dan diantara mereka yang membaiat Abu Bakar t adalah Ali t dan seluruh Ahlul bait.
Adapun qiyas, maka sesungguhnya yang mengqiyaskan permasalahan ini adalah Ali bin Abi Thalib t yang dia berkata,
فَرَضِينَا لِدُنْيَانَا مَنْ رَضِيَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِدِينِنَا
“Maka kami ridha untuk dunia kami terhadap orang yang Rasulullah i ridha untuk agama kami.”
Ini adalah sebuah qiyas yang nyata atas sesuatu yang lebih jelas.
Jika urusan agama lebih agung, maka Rasulullah i telah mengedepankan Abu Bakar t dalam shalat yang itu merupaka tiang agama, sementara dunia itu mengikuti agama. Maka para sahabat mengedepankan Abu Bakar t dalam urusan dunia mereka, yaitu kekhilafahan.
Dengan inilah, menjadi terkumpullah seluruh dalil dari al-Qur`an, sunnah, Ijma’ dan qiyas atas kekhilafahan Abu Bakar t, dan tidak seperti yang Anda klaim bahwa kekhilafahan itu tidak diambil dengan jelas. Kami memohon hidayah kepada Allah bagi kami dan Anda.

Syubhat: Kalian wahai Nawashib, wahai orang yang mengaku bahwa kalian adalah ahlussunnah waljama’ah, kalian telah membunuh Imam al-Husain u.
Jawab: pertanyaan Anda ini merupakan satu kesempatan baik bagi kalangan awam kaum muslimin untuk mengetahui pokok agama kalian yang dibangun diatas dendam, serta ajakan perang. Setelah lebih dari 1300 tahun apa yang Anda inginkan? Apakah kalian ingin menuntut balas? Maka jika kalian ingin menuntut balas, maka dari siapa? Dan apakah karena tujuan ini Allah I menciptakan kita; yaitu menjadikan landasan ibadah kita adalah dendam bagi terbunuhnya al-Husain t, lalu kita hidup dan mati diatasnya?
Sekalipun demikian telah tsabit dalam kitab-kitab kalian, dalil-dalil yang menegaskan bahwa Syi’ah sendirilah yang telah membunuh al-Husain t, dan saya tidak tahu apakah Anda mengetahuinya ataukah tidak?
Al-Husai berkata t dalam do’anya atas syi’ahnya (pendukungnya) saat dia yakin bahwa mereka mengkhianatinya:
اللهم إن متعتهم إلى حين ففرقهم فرقاً، واجعلهم طرائق قدداً، ولا ترض الولاة عنهم أبداً، فإنـهم دعونا لينصرونا ثم عدوا علينا فقتلونا
“Ya Allah, jika Engkau memberikan kelonggaran kepada mereka hingga satu waktu, maka pecah belahlah mereka berkelompok-kelompok, jadikanlah mereka jalan-jalan yang bermacam-macam, janganlah Engkau meridhai kewalian dari mereka selamanya, karena sesungguhnya mereka mengundang kami untuk membantu kami, kemudian mereka memusuhi kami dan membunuh kami.” (al-Irsyad lil Mufid (241))
Dia juga berdo’a atas mereka sekali lagi:
لكنكم استسرعتم إلى بيعتنا كطيرة الدّبا، وتـهافتم كتهافت الفراش، ثم نقضتموها، سفهاً وبعداً، وسحقاً لطواغيت هذه الأمة وبقية الأحزاب ونَبَذة الكتاب، ثم انتم هؤلاء تتخاذلون عنا وتقتلوننا، ألا لعنة الله على الظالمين
“Akan tetapi kalian tergesa-gesa kepada baiat kami seperti terbangnya belalang kecil, kalian serampangan seperti serampangannya kupu-kupu, kemudian kalian mencabut baiat itu; bodoh, jauh, lagi jauh (dari rahmat Allah) bagi thaghut umat ini, bagi kelompok lain, dan yang mengesampingkan al-Qur`an. Kemudian kalian, kalian mengkhianati kami, kemudian kalian membunuhi kami, ingat, laknat Allah atas orang-orang zhalim.” (al-Ihtijaj, at-Thabrusiy (2/24))
As-Sayyid Muhsin al-Amin berkata,
بايع الحسين من أهل العراق عشرون ألفاً، غدروا به وخرجوا عليه وبيعته في أعناقهم، وقتلوه
‘al-Husain telah membaiat dua puluh ribu orang penduduk Iraq, kemudian mereka mengkhianatinya, lalu mereka keluar meninggalkannya sementara baiatnya ada pada leher-leher mereka, kemudian mereka membunuhnya.’ (A’yanus Syi’ah, Bagian pertama (34))
Imam Zainul ‘Abidin berkata kepada penduduk Kufah:
هل تعلمون أنكم كتبتم إلى أبي وخدعتموه، وأعطيتموه من أنفسكم العهد والميثاق ثم قاتلتموه وخذلتموه؟ بأي عين تنظرون إلى رسول الله صلى الله عليه وآله وهو يقول لكم : قاتلتم عِترتي وانتهكتم حرمتي، فلستم من أمتي
“Bukankah kalian tahu bahwa kalian telah menulis untuk bapakku, lalu kalian menipunya? Lalu kalian berikan janji setia dengan jiwa kalian kemudian kalian perangi dia dan kalian khianati? Dengan mata mana kalian akan melihat kepada Rasulullah i sementara beliau akan berkata kepada kalian, ‘Kalian memerangi keluargaku, kalian telah langgar kehormatanku, maka kalian bukanlah termasuk umatku.” (al-Ihtijaj (2/32))
Dia juga berkata:
إن هؤلاء يبكون علينا فمن قتلنا غيرهم ؟!
“Sesungguhnya mereka menangisi kami, maka siapakah yang telah membunuh kami selain mereka sendiri?’ (al-Ihtijaj (2/29))
Fathimah as-Sughra berkata dalam pidatonya kepada penduduk Kufah:
يا أهل الكوفة، يا أهل الغدر والمكر والخيلاء، إنا أهل البيت ابتلانا الله بكم، وابتلاكم بنا فجعل بلاءنا حسناً . فكفرتمونا وكذبتمونا ورأيتم قتالنا حلالاً وأموالنا نـهباً . كما قتلتم جدنا بالأمس، وسيوفكم تقطر من دمائنا أهل البيت. تباً لكم ! فانتظروا اللعنة والعذاب فكأن قد حلّ بكم ألا لعنة الله على الظالمين. تباً لكم يأهل الكوفة، كم قرأت لرسول الله صلى الله عليه وآله قبلكم، ثم غدرتم بأخيه علي بن أبي طالب وجدي، وبنيه وعترته الطيبين
“Wahai penduduk Kufah, wahai para pengkhianat, pembuat makar dan orang-orang sombong! Sesungguhnya kami ahlul bait, Allah menguji kami dengan kalian, dan Allah menguji kalian dengan kami. Maka Dia jadikan musibah kami sebagai sebuah kebaikan. Kemudian kalian mengkafirkan kami, mendustakan kami, dan kalian berpandangan bahwa membunuh kami adalah halal dan harta kami sebagai rampasan perang. Sebagaimana kalian telah membunuh kakek kami kemarin, dan pedang-pedang kalian telah meneteskan darah-darah kami ahlul biat. Celaka kalian! Maka tunggulah laknat dan adzab.. seakan-akan hal itu hampir datang terhadap kalian… ingat laknat Allah atas orang-orang zhalim. Celaka kalian wahai orang-orang Kufah. Betapa aku telah membaca untuk Rasulullah i sebelum kalian, kemudian kalian mengkhianati saudara beliau, Ali bin Abi Thalib, kakekku dan anak-anaknya dan seluruh keturunannya yang baik.” (al-Ihtijaj (2/28))
Zainab binti Amiril Mukminin berkata kepada penduduk Kufah:
أما بعد يا أهل الكوفة، يا أهل الختل والغدر والخذل. إنما مثلكم كمثل التي نقضت غزلها من بعد قوة أنكاثاً، هل فيكم إلا الصلف والعجب والشنف والكذب؟ أتبكون أخي؟ أجل والله فابكوا كثيراً واضحكوا قليلاً فقد ابليتم بِعارِها. وأنى ترخصون قتل سليل خاتم النبوة
“Amma ba’du, wahai penduduk Kufah, wahai para pengkhianat, sesungguhnya perumpamaan kalian seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali. Bukankah ditengah kalian tidak ada sesuatu melainkan pembualan, ujub, kebencian, dan kedustaan? Apakah kalian menangisi saudaraku? Baik, demi Allah, banyak menangislah kalian, dan sedikitlah tertawa, sungguh kalian diberi bencana dengan …………………. Dan bagaimana kalian menjadikan murah pembunuhan keturunan penutup kenabian.” (al-Ihtijaj 2/29-30)
Inilah yang ditetapkan oleh sumber-sumber syi’ah sebelum selain mereka.!
Maka apakah Anda sekarang sudah tahu siapakah pembunuh al-Husain? Siapakah yang telah mengeluarkannya kemudian mengkhianatinya? Hakikat ini telah disaksikan oleh para ulama Syi’ah sendiri. Dan kami memaklumi Anda akan kebodohan Anda terhadap agama Syi’ah, karena keberadaan Anda yang termasuk orang-orang yang tertipu di dalamnya. Kami memohon kepada Allah hidayah bagi kami dan Anda.

Posted By Dzaky Moebarak13.57

Jawaban Syubhat Syiah (11)


Bantahan Syubhat Syi’ah
Oleh: Mamduh Farhan al-Buhairi

Sebagai perubahan, kami memilih beberapa macam syubhat berbeda pada edisi ini. Saya memohon kepada Allah, agar bantahan-bantahan ini mendapatkan keridhaan Allah, kemudian keridhaan Anda sekalian.
Penanya: Kayfa alhal Qiblati yang makin mendebarkan? Afwan mau nanya, Orang-orang syi’ah sering menjadikan surah al-Jumu’ah nutuk menghujat bahwa para sahabat telah menzalimi Rasulullah dengan meninggalkannya sendirian ketika sementara berkhutbah, tolong dijelaskn pemahaman yang benar tentang ayat tersbut..syukron !! +628***1248***
Jawab: Saya berterima kasih atas pujian Anda, dan kami memohon kepada Allah agar kami berada pada kebaikan yang Anda persangkakan.

Pertama, yang harus Anda ketahui adalah sebab turunnya ayat Jum’at, zaman, serta kondisi lingkungan yang mengitarinya, agar Anda bisa memahami permasalahan ini dengan benar. Sebab turunnya ayat tersebut adalah bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kala itu tengah berkhutbah di atas mimbar pada hari Jum’at, tiba-tiba datanglah kafilah dagang yang membawa makanan dari perniagaan Syam. 

Kemudian dipukullah genderang agar manusia mengetahui kedatangannya. Sementara manusia pada zaman itu hidup dalam kerasnya kehidupan, maka mereka pun keluar dan tidak tersisa di dalam masjid melainkan dua belas orang, di antara mereka adalah Abu Bakar dan Umar, maka turunlah ayat:

وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ (١١)
“Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan,” dan Allah sebaik-baik pemberi rezki.” (QS. Al-Jumu’ah: 11)
Sesungguhnya khutbah ini, yang mereka telah keluar darinya adalah khutbah setelah mereka melakukan shalat Jum’at, di mana kala itu shalat Jum’at seperti shalat dua hari raya, yaitu shalat lebih dulu, baru kemudian khutbah. Maka di saat manusia keluar, mereka menyangka bahwa tidak masalah meninggalkan khutbah Jum’at. Maka Allah menurunkan ayat tersebut. Abu Dawud, al-Hafizh Ibnu Hajar, dan Imam Nawawi dalam syarah Shahih Muslim dan selain mereka telah menguatkan hal tersebut.
Kejadian ini terjadi sebelum bermulanya zaman hijrah, dan adab-adab syar’i belum sempurna, sebagaimana para sahabat besar seperti Abu Bakar, dan Umar berdiri di sisi beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebagaimana hal itu telah tetap di dalam hadits-hadits shahih.

Larangan syar’i ini belum ada sebelumnya, maka tatkala turun ayat Jum’at, mereka baru memahami tercelanya hal tersebut. Maka mereka pun menjauhinya, dan tidak pernah sama sekali mengulanginya. Bahkan mereka adalah orang yang menjaga praktek hukum-hukum, perintah-perintah, dan larangan-larangan syar’i ini. Hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mensifati mereka dengan sebaik-baik sifat:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali ‘Imran: 110)
Maka di manakah Syi’ah dari pujian agung ini, yang dengannya Allah Subhanahu wa Ta’ala memulai pujian itu untuk generasi para sahabat yang mulia? Dan dikarenakan Syi’ah Ekstrim termasuk seburuk-buruk makhluk, maka mereka menjadikan pandangan mereka tertuju pada perkara pertama yang terjadi hanya sekali, dan tidak menoleh kepada perkara kedua yang dipraktekkan oleh para sahabat Radhiallahu ‘Anhum dan yang mereka laksanakan sepanjang hidup mereka, dan mereka mati di atasnya; mereka berdiri di sisi perintah-perintah Allah, dan larangan-larangan-Nya. Dan telah diketahui bahwa hukum-hukum Islam tidak turun sekali saja, melainkan turun secara berangsung-angsur. Dan datanglah sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan berangsur-angsur sebagai bentuk kemudahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, untuk para hamba-Nya dalam perkara yang disyari’atkan untuk mereka, baik itu berupa pembolehan atau pengharaman.
Maka pada saat Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan berbagai kewajiban atas para hamba-Nya, seperti shalat, puasa, dan zakat, Allah wajibkan itu semua di atas beberapa fase, dan tingkatan-tingkatan hingga selesailah kewajiban-kewajiban itu pada bentuk yang terakhir.

Shalat, awal kalinya diwajibkan dua rakaat-dua rakaat, kemudian jumlah ini ditetapkan pada waktu safar, lalu ditambah pada waktu mukim menjadi empat rakaat, yaitu Zhuhur, Ashar, dan ‘Isya`. Puasa, awal kali diwajibkan di atas pilihan, siapa yang mau maka dia berpuasa, dan siapa yang mau maka dia boleh berbuka dan membayar fidyah; yaitu memberi makan seorang miskin setiap hari dia berbuka. Zakat, diawajibkan pertama kali di Makkah secara mutlak, tanpa ada batasan, tidak juga diikat dengan nishab dan kadarnya. Bahkan dibiarkan untuk hati nurani orang-orang mukmin dan kebutuhan masyarakat dan individu, hingga zakat itu diwajibkan atas harta yang mencapai nishab dan kadar di Madinah.

Perkara-perkara yang diharamkan pun demikian, tidaklah datang pengharamannya secara sekaligus, secara serentak. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengetahui ukuran penguasaannya atas jiwa-jiwa, serta penetrasinya ke dalam kehidupan individu dan sodial. Maka bukanlah termasuk hikmah menyapih manusia darinya dengan perintah langsung yang dikeluarkan bagi mereka. Tiada lain yang hikmah adalah menyiapkan mereka secara kejiwaan, dan pemikiran untuk menerimanya. Kemudian membawa mereka dengan aturan tahapan dalam mengharamkannya. Hingga jika datang perintah penentu, mereka sudah siap secara nyata dan emosional untuk melaksanakannya seraya mengatakan, ‘Kami mendengar, kami patuh.’
Dan diantara contoh paling jelas, yang menguatkan hal ini adalah pengharaman riba dan khomer yang berjenjang sebagaimana diketahui dalam sejarah pensyariatan Islam. Hingga turun ayat-ayat penentu dalam pelarangan darinya. Diantaranya adalah dari surat al-Maidah, yang penutupnya adalah:
فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ (٩١)
“…Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al-Maidah: 91)
Dari sini, turunlahlah al-Qur`an kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara bertahap selama dua puluh tiga tahun. Akan tetapi Syi’ah, dengan pengingkaran mereka terhadap sikap meninggalkan khutbah yang dilakukan oleh manusia kala itu, tiada lain itu adalah sebuah ungkapan akan ketidak berimannya mereka terhadap tahapan ini. Maka dengan hal ini, mereka bersesuaian dengan orang-orang kafir yang mengingkari turunnya al-Qur`an yang berangsur-angsur. Maka berfirmanlah Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang sifat mereka:
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلا (٣٢)
“Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al-Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).” (QS. Al-Furqan: 32)
Maka bayangkanlah bersama saya, seandainya Anda adalah seorang pengajar SD, apakah Anda ingin agar murid-murid Anda berada di tingkat mahasiswa perguruan tinggi? Dengan yakin tidak. Maka kekurangan seorang murid pada satu atau dua pelajaran tidak berarti bahwa ia tidak akan memahami hal tersebut pada masa mendatang dengan terusnya pelajaran dan arahan. Dan inilah kondisi para sahabat Radhiallahu ‘Anhum bersama pengajar mereka, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang bertahap dalam mendidik dan mengajari mereka. Sesungguhnya orang yang mencemarkan para sahabat, maka dia pada hakikatnya mencemarkan pengajar mereka, dan menuduhnya gagal dalam mendidik dan mengajari mereka. Sekali-kali tidak demikian.
Maka apakah Anda mengetahui siapakah mereka yang dituduh oleh Syi’ah dalam syubhat ini dan lainnya? Mereka adalah orang-orang yang telah mempersembahkan darah mereka dengan murah untuk meninggikan kalimat Allah. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang telah memerangi bapak-bapak mereka, dan saudara-saudara mereka demi agama Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Apakah Anda mengetahui siapakah mereka, yang syi’ah membenci mereka? Sesungguhnya mereka adalah orang yang telah menebus Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan darah-darah mereka, dan membela serta melindungi beliau dengan arwah mereka.

Apakah Anda mengetahui siapakah mereka yang Syi’ah dan orang-orang yang sepaham dengan syi’ah menjelek-jelekkan mereka? Sesungguhnya mereka adalah orang yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berhasil mendidik mereka. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan legitimasi-Nya yang kekal berkaitan dengan hak mereka, yang terus dibaca hingga hari kiamat.

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (١٠٠)
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)
Perhatikanlah, bagaimana pada waktu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyiapkan sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai untuk para sahabat Radhiallahu ‘Anhum, dan mereka akan kekal di dalamnya, orang Syi’ah malah menuduh dan mencaci hak mereka, serta menjadikan mereka sebagai orang-orang kafir, terlaknat dan kekal di dalam neraka, wal’iyadzu billah.

Dan termasuk perkara yang mengherankan adalah bahwa Syi’ah menuduh para sahabat dengan hujjah kecintaan mereka kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka telah menyebutkan dalam kitab-kitab mereka berbagai tuduhan dan kelancangan yang tidak layak terhadap hak Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan keluarga beliau. Tetapi ini bukanlah tempat untuk merincinya.
Sesungguhnya di dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, …” (QS. Ali ‘Imran: 110) Ada sebuah dalil yang jelas atas keadilan para sahabat bagi umat ini atas seluruh umat sebelumnya. Dikarenakan orang pertama kali yang masuk dalam kebaikan ini adalah orang yang diajak bicara waktu itu dengan kandungan arah pembicaraan ayat tersebut di saat turunnya.
Akan tetapi, apa yang bisa kita lakukan terhadap akal-akal sakit, dan hati-hati dengki yang ingin menghisab (menilai dan menghitung) para ulama besar atas sebagian prilaku mereka saat mereka berada pada masa SD?
Sebagaimana kebiasaan, kami menjatuhkan Syi’ah pada keburukan amal-amal mereka, dan kami katakan kepada mereka, ‘Sepanjang Anda sekalian bertumpu pada ahlissunnah dalam riwayat hadits ini, maka Anda harus menerima riwayat tersebut sebagaimana adanya, atau meninggalkannya sebagaimana adanya. Jika Anda menerima, maka akan kami katakan bahwa perawi hadits itu, yaitu Jabir bin ‘Abdillah, menyebut bahwa dia termasuk dua belas orang yang tetap tinggal bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan dia menyebutkan, di antara orang-orang tetap tinggal dan tidak keluar adalah Abu Bakar dan ‘Umar. Seandainya kita mengalah, bahwa kesembilan orang sisa itu adalah termasuk ahlul bait, maka apakah masuk akal, tetap tinggal sembilan orang diantara mereka, sementara puluhan yang lain keluar bersama manusia?!
Ini adalah sikap mengalah dari saya, jika tidak, maka sungguh telah disebut nama-nama kedua belas orang yang tetap tinggal bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada hadits mursal yang diriwayatkan oleh Asad bin ‘Amr, bahwa orang yang tersisa, ditambah oleh Jabir bin ‘Abdillah, adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, ‘Ali, Thalhah, az-Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Abu ‘Ubaidah ibn al-Jarrah, Sa’id bin Zaid, dan Bilal. Dalam riwayat ‘Abdullah bin Mas’ud, dan riwayat lain terdapat ‘Ammar bin Yasir, dan kedua riwayat terakhir ini menyebut bahwa jumlah mereka adalah tiga belas orang.
Jadi, tidak tersisa dari ahlul bait kecuali ‘Ali Radhiallahu ‘Anhu. Maka jika Syi’ah menilai bahwa keluarnya para sahabat adalah sebuah cacad atas mereka, dan akhlak buruk mereka sementara Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdiri berkhutbah, maka sesungguhnya yang demikian itu lebih keras lagi pukulannya terhadap ahlul bait.
Saya cukupkan ini saja, didalamnya sudah ada kecukupan, dan saya berterima kasih atas hubungan ini, dan saya memohon kepada Allah, agar mengumpulkan saya, Anda, dan seluruh orang yang mencintai para sahabat Radhiallahu ‘Anhum di Firdaus yang tertinggi di sorga. Amin.*
Syubhat: Syi’ah mempedomani imam Ali, Hasan, Husain dan 9 keturunan Imam Husain. Dari 12 imam itulah hadits-hadits Syiah diambil. Memang syiah hanya mempedomani sebagian hadis sunni karena sebagian lagi dianggap rekayasa penguasa. Prof. Dr. Quraish shihab, Umar Shihab, Azyumardi Azra, Amien Rais, dan Din Syamsuddin menyatakan mazhab syi’ah tidak sesat. +628***2493***
Jawab: Dalam perkara yang mengkhususkan satu sisi, yaitu bahwa Syi’ah mengambil hadits-haditsnya dari para Imam, maka sungguh Anda telah mencukupi bantahan saya, dan Anda sendiri telah membatalkan agama Syi’ah tanpa Anda ketahui. Karena memang tidak ditemukan dari mereka ilmu hadits, dan barangkali Anda kembali kepada makalah saya pada edisi yang lalu, dan edisi ini, yaitu tentang ilmu hadits pada Syi’ah. Anda akan menyingkap sendiri hakikat itu tanpa kesulitan. Dan saya berharap agar Anda mengikuti edisi-edisi mendatang dengan izin Allah, agar Anda bisa menyingkap tambahan-tambahan informasi dan ilmu yang mengagetkan, dan dengan yakin bahwa perkara yang mengagetkan itu bukanlah sebuah rahasia bagi Syi’ah.
Adapun ucapan Anda bahwa Syi’ah berpedoman pada kesembilan Imam dari keturunan al-Husain Radhiallahu ‘Anhu, maka Anda juga telah membatalkan agama Syi’ah tanpa Anda  rasakan. Mengapa kesembilan Imam tersebut tidak dari keturunan al-Hasan Radhiallahu ‘Anhu? Sementara beliau adalah lebih tua dari al-Husain Radhiallahu ‘Anhu? Maka manakah dalil atas pengangkatan Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi anak-anak al-Husain Radhiallahu ‘Anhu, tanpa anak-anak al-Hasan Radhiallahu ‘Anhu? Kami menginginkan dalil dari al-Qur`an, karena ini adalah aqidah dan satu pokok dari pokok-pokok agama. Satu pokok agama haruslah dari dalil yang qath’iy yang di dalamnya tidak ada ruang kemungkinan. Karena suatu dalil, jika disebutkan suatu kemungkinan di dalamnya, maka batallah berdalil dengannya.
Kemudian bertanyalah pada diri Anda sendiri pertanyaan ini yang Anda tidak akan menemukan jawabannya pada Syi’ah; yaitu mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menentukan para Imam dari keturunan al-Hasan Radhiallahu ‘Anhu? Bukankah dia yang sulung? Maka bagaimana Syi’ah menjadikan syarat pengangkatan Imam adalah putra sulung dari keturunan al-Husain, yaitu bahwa Imam setelah al-Husain adalah putra sulungnya, dan putra sulung ini diganti oleh putra sulungnya, dan demikian seterusnya…
Jika memang demikian, maka mengapa imamah tidak jatuh kepada putra sulung Ali, yaitu al-Hasan Radhiallahu ‘Anhu? Pertanyaan dalam sisi ini sangat banyak, dan pembicaraan di dalamnya tidak akan pernah berhenti di atas angan-angan. Kami menunggu seseorang yang maju berdialog bersama kami.
Akan tetapi saya mengajak Anda untuk melihat ke dalam Biharul Anwar (45/329), oleh al-Majlisi, cet. Muassasah al-Wafa`, Beirut (Cet. II, 1403), dan rujukan lainnya, bahwa pengagungan keturunan al-Husain, bukan keturunan al-Hasan, karena orang-orang Persia adalah paman-paman mereka, karena keberadaan istri al-Husain adalah Putri Yazdajir, orang Persia, dan beragama Majusi.
Adapun berkenaan dengan tokoh-tokoh di Indonesia yang tercinta, dan bersamaan dengan ketidak tahuanku jika ada di antara tokoh-tokoh itu adalah seorang Syi’ah atau Liberal, atau tidak, maka sesungguhnya saya mulai sebuah pertanyaan kepada Anda; ‘Apakah Anda mengambil agama Anda dari “Allah berfirman, Rasul-Nya bersabda” ataukah dari “Fulan berkata, dan Fulan berkata”?!
Orang yang telah Anda sebutkan, bersamaan dengan penghormatan saya kepada mereka, mereka bukanlah para ulama Syari’ah, tidak juga orang-orang yang ahli. Keberadaan mereka dikenal di masyarakat tidak berarti bahwa kita menjadikan apa yang mereka katakan sebagai sebuah hukum atas kitabullah, dan sunnah Nabi-Nya. Bahkan kita jadikan Kitabullah, Sunnah Nabi-Nya lah yang menghukumi kita dan mereka, dan setiap orang yang berselisih. Jika benar ucapan mereka yang datang di dalam pertanyaan Anda, maka tidaklah mereka menjadi orang pertama dan terakhir yang berbicara tanpa ilmu dalam masalah Syi’ah secara khusus dan aqidah secara umum.
Pergilah kepada salah seorang dari para tokoh penyeru taqrib (pendekatan) antara sunnah dan Syi’ah, kemudian mintalah darinya untuk menulis dalil-dalilnya dari al-Kitab dan Sunnah akan keshahihan agama Syi’ah, yang kemudian kami akan menyebarkannya di dalam majalah secara langsung. Saat itu akan tersingkaplah kepada umat, akan kebenaran ucapan saya, bahwa mereka bukanlah para ulama, dan bukan ahli ilmu dalam hal ini.
Bahkan saya menjadi bergembira, seandainya ada satu orang dari para tokoh penyeru taqrib ini yang maju, sama saja orang yang telah Anda sebutkan, atau selain mereka untuk masuk dalam dialog damai bersama kami yang umat ini akan bisa mengambil faidah darinya. Akan tetapi saya katakan dengan terus terang dengan keyakinan seorang mukmin, ‘Jika orang-orang Syi’ah pada umumnya takut untuk menghadapi kami, maka apakah Anda akan menyangka orang yang bukan termasuk Syi’ah memiliki kemampuan dan keberanian untuk menghadapi kami (majalah Qiblati) dalam masalah Pembelaan Terhadap Syi’ah? Dengan yakin, bahwa ini adalah mustahil, dan semacam khayalan- biidznillah-.
Kemudian, wahai putraku, bukanlah popularitas itu yang menjadi ukuran dalam mengetahui kebenaran dari kebatilan, karena orang itu dikenal dengan agama, bukan agama dikenal dengan orang. Tidak logis, jika seseorang tidak enak badan terus dia pergi ke penjual arang atau kayu bakar, sebagai ganti dari dokter. Juga tidak logis saat mobil mogok, pemiliknya pergi ke apotik, tidak ke bengkel.
Ingat, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan peringatan kepada para hamba-Nya dari mengikuti orang-orang yang kesohor, bangsawan, dan para pembesar, tokoh masyarakat, dan bahkan ulama-ulama sesat. Allah berfirman menceritakan lisan kaum yang nanti datang pada hari kiamat yang mereka sesat dengan kesesatan yang besar karena mengikuti para tokoh:
وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلا (٦٧)رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا (٦٨)
“Dan mereka berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati para pemimpin dan pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 67-68)
Dari sini, kami ambil buah, yaitu bahwa hujjah dari pertanyaan Anda gugur secara ilmiah, dan tidak layak berdalil denganya dalam menshahihkan agama Syi’ah. Bahkan itu merugikan syi’ah, dan tidak memberikan manfaat kepada mereka, karena Anda tidak bertumpu dari al-Kitab dan Sunnah yang sahih atas pembenaran agama mereka, namun dengan ucapan-ucapan para tokoh. Ini merupakan sebuah cacat atas agama manapun. Kami akan menemukan para tokoh yang membenarkan agama Qodyaniah, dan kita akan menemukan para tokoh yang membenarkan pikiran liberal, dan kita akan medapati orang-orang tenar yang menshahihkan persatuan agama, demikian seterusnya. Oleh karena itu, ibrahnya adalah dalil dari Kitabullah dan Sunah Nabi-Nya, bukan dengan ucapan orang-orang tenar.
Terakhir, saya tutup dengan mengatakan bahwa pintu majalah Qiblati terbuka untuk dialog damai dengan semuanya. Barangkali kami salah dalam penghukuman kami. Oleh karena itulah kami menerima orang yang maju dan meluruskan kesalahan-kesalahan kami. Maka hak bantahan terjamin dan terjaga untuk semuanya, selamat datang bagi Anda sekalian. Dan terima kasih atas perhatiannya. (AR)*

Posted By Dzaky Moebarak13.54

Jawaban Syubhat Syiah (10)



Bantahan Syubhat Syi’ah
Oleh: Mamduh Farhan al-Buhairi

Syubhat Syiah: Sesungguhnya kebencian sebagian sahabat kepada ahlul bait telah diketahui dan terkenal. Mereka telah memaksa manusia untuk membaiat Abu Bakar -Radhiallahu ‘Anhu-. Dan saat ‘Ali ‘alaihissalam menolak membaiat khalifah kalian, Abu Bakar, maka diapun mengutus ‘Umar kepadanya, kemudian dia mengetuk pintu rumah Fathimah. Dan setelah pintu itu dibuka, maka Umar menghantam dan memukulnya dengan cambuk, mematahkan tulang rusuknya, dan menggugurkan janinnya karena Umar membuka pintu dengan keras hingga masuklah paku pintu ke dada Fathimah setelah Umar menekan pintu yang padanya terdapat paku di atas Fathimah dengan keras. Dan seandainya janinnya hidup, maka namanya adalah Muhsin, akan tetapi Umar telah membunuhnya dalam seburuk-buruk rupa. Kemudian setelah itu, dia mengikat seutas tali, lalu menyeret Fathimah di belakangnya, berteriak histeris dan menampari mukanya, sementara al-Hasan dan al-Husain menangis. Dengan cara inilah, dia memaksa ‘Ali untuk membaiat Abu Bakar. Kemudian Umar membakar rumah Fathimah ‘alaihassalam yang bekas pukulan cambuk masih membekas pada tubuhnya hingga dia wafat. Inilah Umar yang kalian selalu mengucapkan radhiyallahu anhu padanya?!!

Bantahan Kami: La haula wala quwwata illah billah.

Sesungguhnya syubhat ini, seandainya para produser film ingin mengeluarkan film seperti ini, mereka tidak akan mampu mengeluarkan film dengan rupa seperti ini. Orang-orang Majusi benar-benar ahli dalam membuat-buat kedustaan dan tahayul seperti ini, sebagaimana kebiasaan mereka.

Bantahan syubhat ini, sebagaimana kami telah membiasakan para pembaca kami yang mulia adalah bukti akan kebatilan agama Majusi yang mereka menasabkannya dengan nama Islam secara dusta dan klaim kecintaan kepada ahlul bait secara zhalim yang nyata. Mereka, pada dasarnya membenci Islam dan ahlul bait yang mereka memanipulasi (mengadakan penipuan) dengan nama mereka. Untuk Anda sekalian, kami hadirkan beberapa poin penting, yang akan membatalkan syubhat ini dengan logika dan nalar, kemudian dengan ilmu dan riwayat.

Bagian pertama; bantahan dengan logika dan akal.
1. Tampak dalam syubhat ini, kebencian orang-orang Majusi kepada ahlul bait, dan bahwa penipuan mereka dengan klaim kecintaan kepada mereka tiada lain hanyalah sebagai sarana untuk merealisasikan tujuan-tujuan mereka; yang diantaranya adalah merusak Islam, serta memecah barisan kaum muslimin.

Mereka menjadikan ‘Ali Radhiallahu ‘Anhu tampak dalam kisah ini sebagai orang yang paling pengecut. Maka seorang laki-laki sederhana pada desa manapun di Indonesia tidak akan pernah menerima perbuatan melampaui batas ini terhadap istri dan rumahnya di hadapan matanya, lalu mendiamkan kejahatan ini, serta tidak menampakkan pembelaan apapun sekalipun hanya sekedar usaha. Maka bagaimana dengan ‘Ali Radhiallahu ‘Anhu, seorang ksatria dan pahlawan yang perkasa, dan seorang pemberani yang tidak pernah gentar dan ciut nyali di hadapan siapapun?!

Syi’ah, saat mereka ingin mengangkat kedudukan Ali Radhiallahu ‘Anhu, maka mereka mengangkatnya. Dan saat mereka ingin merendahkannya, maka mereka pun tidak bisa menahan diri darinya. Sungguh mereka telah berlebihan padanya, mereka mengangkat kedudukannya hingga pada tingkat mengklaim bahwa orang-orang musyrik korban perang Badar, separuh dari mereka telah dibunuh oleh para malaikat, dan separuh lagi dibunuh oleh ‘Ali seorang diri. Maksudnya adalah tidak ada bagi para sahabat Radhiallahu ‘Anhum peran apapun dalam peperangan ini?! Saya tidak tahu mengapa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat pergi ke peperangan tersebut selama para malaikat dan ‘Ali Radhiallahu ‘Anhu yang akan mengalahkan kaum musyrikin?!

Mereka mengklaim, bahwa diantara kekuatan ‘Ali adalah dia mengangkat sebuah pintu dalam peperangan Khaibar lalu menjadikannya sebagai perisai baginya, dan setelah selesainya peperangan, tujuh puluh orang laki-laki dari kalangan para sahabat tidak mampu mengangkatnya!

Syi’ah berkeyakinan bahwa ada seorang malaikat yang disebut Ridhwan menyeru dari langit,


لاَ سَيْفَ إِلاَّ ذُوْ الْفِقَارِ وَلاَ فَتىَ إِلاَّ عَلِيٌّ
‘Tidak ada pedang melainkan Dzul Fiqar, dan tidak ada pemuda melainkan ‘Ali.’
Oleh karena itulah Syi’ah berkeyakinan bahwa seandainya tidak ada jihad ‘Ali, maka pastilah para sahabat berada dalam lipatan keterlupaan, dan alam kealpaan.

Bersamaan dengan seluruh kepahlawanan Ali Radhiallahu ‘Anhu yang disebut  dalam kitab-kitab kaum syiah tersebut, kini mereka menjadikannya sebagai seorang pengecut di hadapan seorang ‘Umar Radhiallahu ‘Anhu yang telah berbuat melampaui batas terhadap rumah dan kehormatannya; mencabik kehormatan istrinya dengan memukulnya, mematahkan tulang rusuknya, dan membunuh janinnya, membakar rumahnya, kemudian mengeluarkannya dalam keadaan terhina lalu menyeretnya agar membaiat Abu Bakar dengan kekuatan paksaan?! Maka di manakah keberanian ‘Ali Radhiallahu ‘Anhu bersembunyi di hadapan ‘Umar yang keberanian Ali itu dikukuhkan dari langit, dan dia juga ma’shum sesuai dengan keyakinan Syi’ah yang menyimpang itu?!

Bukanlah hal baru dan asing, penghinaan Syi’ah terhadap ‘Ali Radhiallahu ‘Anhu. Cukuplah kita menyebut bahwa al-Qummiy; tokoh besar ahli tafsir al-Qur`an bagi orang syi’ah telah mensifati Ali Radhiallahu ‘Anhu pada juz pertama hal 35 dengan sifat nyamuk! Yaitu pada saat menafsiri firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ لا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا
“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu…” (QS. al-Baqarah (2): 26)

Maka pembesar ulama Syi’ah tidak menemukan kecuali Ali Radhiallahu ‘Anhu, dan menjadikannya sebagai serangga yang dimaksud dalam ayat ini, wal’iyadzu billah. Para ulama Syi’ah lupa bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuliakan Bani Adam, maksudnya adalah jenis manusia secara umum, termasuk di antara golongan mereka adalah orang-orang kafir, maka bagaimana dengan seorang penghulu dan para penghulu kaum muslimin?! Ini adalah sebuah contoh, dari contoh-contoh kecintaan Syi’ah kepada ahlul bait. Saya mengirimkannya sebagai hadiah kepada orang-orang yang tertipu oleh mereka!

2. Berdasarkan asumsi keshahihan riwayat, maka di manakah perginya klaim Syi’ah bahwa ‘Ali mengetahui ilmu ghaib sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab mereka; maka mengapa dia tidak memberikan peringatan kepada Fathimah akan kedatangan Umar, lalu pergi dengannya atau bersiap-siap untuknya?!
3. Bagaimana seorang berakal mempercayai kejadian ini, sementara dia melihat diamnya manusia terhadap kejadian itu pada zaman tersebut, dan tidak adanya pengingkaran dari mereka atas kejahatan ini yang tidak layak dilakukan terhadap kedudukan ahlul bait dan putri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Terutama bahwa memukul wanita termasuk perkara yang mendatangkan aib pada bangsa Arab. Oleh karena itulah Abu Jahal yang musyrik merasa sangat malu dan menyesal akan pemukulannya terhadap Asma` binti Abi Bakar Radhiallahu ‘Anhuma, setelah para pembesar Makkah dan tokohnya mencelanya. Dan sebagian musuhnya terus mencelanya karena perbuatannya itu. Maka mengapa tidak ada seorangpun yang mencela Umar karena memukul Fathimah, mematahkan tulang rusuknya, menggugurkan kandungannya, dan membakar rumahnya? Jika memukul seorang wanita tergolong sebagai tempat cacian dan aib di masa jahiliyah, maka bagaimana pula setelah keIslaman para sahabat, dan pendidikan Islam bagi mereka?!
4. Berdasarkan asumsi keshahihan riwayat yang menampakkan ‘Ali dengan sifat kelemahan dan orang yang ketakutan yang tidak memberikan pembelaan kepada putri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka di manakah ahlul bait yang lain? Maka mengapa mereka tidak membela putri nabi mereka Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?! Maka apakah masuk akal mereka semua sepakat untuk bersikap rendah dan pengecut?! Jadi, itu adalah satu bentuk penghinaan dari sekian bentuk penghinaan Syi’ah terhadap ahlul bait. Maka kapankah orang-orang yang lalai itu terbangun dari kelalaian?! Ini adalah sebuah dalil dari sekian dalil akan kebatilan kisah dusta ini.
5. Sungguh Syi’ah telah menjadikan Ali Radhiallahu ‘Anhu -berdasarkan konsekuensi riwayat ini -sebagai orang yang tidak layak menjadi khalifah kaum muslimin, lebih-lebih lagi sebagai seorang imam. Dikarenakan orang yang tidak mampu melindungi istri dan janinnya tidak sah untuk menjadi seorang khalifah, dan tidak ada hak baginya untuk diminta menjadi khalifah. Maka siapakah yang akan membaiat seorang khalifah pengecut seperti ini?! Dan sesungguhnya baiat kaum muslimin bagi Ali Radhiallahu ‘Anhu sebagai khalifah adalah sebuah dalil terbesar atas kebatilan riwayat yang didustakan ini. Dan sesungguhnya musibah yang besar adalah bahwa sebagian kitab-kitab Syi’ah seperti kitab al-Imamah was Siyasah juz I hal. 12 telah menetapkan bahwa perbuatan melampaui batas atas rumah Fathimah telah terjadi lebih dari sekali!
6. Perhatikanlah satu bagian penting dalam riwayat tersebut yaitu saat Fathimah Radhiallahu ‘Anha membuka pintu; sebagaimana Anda sekalian ketahui bahwa rumah-rumah para sahabat tempo dulu sangat kecil; terutama rumah-rumah orang-orang faqir yang ‘Ali Radhiallahu ‘Anhu termasuk dari mereka; rumah yang mengibaratkan satu kamar saja. Maka bagaimana ‘Ali meninggalkan Fathimah membuka pintu sementara dia berada pada kamar kecil yang sama. Maka ini termasuk perkara yang menafikan kecemburuan dan perlindungan; terutama riwayat-riwayat Syi’ah telah menyebutkan bahwa Fathimah membuka pintu tersebut setelah dia mengetahui bahwa pengetuk pintu adalah ‘Umar Radhiallahu ‘Anhu. Maka kami tidak akan menerima sedikitpun dari hal ini bagi diri kami sementara kami adalah manusia awam, lalu bagaimana Syi’ah menerimanya untuk ‘Ali Radhiallahu ‘Anhu sementara dia adalah seorang penghulu dari penghulu-penghulu kaum muslimin?!
Bagian kedua; Bantahan dengan ilmu riwayat.

1. Telah disebutkan dalam syubhat tersebut, sebagaimana Anda ikuti, bahwa Fathimah Radhiallahu ‘Anha telah membuka pintu, dan Umar, termasuk yang dia lakukan terhadap Fathimah bahwa dia menekan pintu di atas Fathimah hingga menjadikan pakunya masuk (menancap) ke dalam dadanya dan mematahkan tulang rusuknya…

Baiklah, kami faham wahai Syi’ah…!

Akan tetapi apa pendapat kalian, bahwa rumah ‘Ali Radhiallahu ‘Anhu tidak berpintu? Dan ini adalah dengan nash kitab-kitab kalian. Telah disebutkan dalam kitab Manaqibu Ali Abi Thalib (II/336), ‘Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu berkata,


نَحْنُ آلُ الْبَيْتِ لاَ سُقُوْفَ وَلاَ أَبْوَابَ لِبُيُوْتِنَا، وَلَكِنَّنَا نَسْتُرُ أَنْفُسَنَا بِالْجَرِيْدِ
“Kami Alul Bait, tidak ada atap, dan tidak juga pintu bagi rumah-rumah kami, akan tetapi kami menutupi diri-diri kami dengan pelepah korma.”

Demikian juga riwayat ini datang dalam banyak sumber rujukan Syi’ah; diantaranya adalah Biharul Anwar juz 38 hal. 167, juga dalam Hilyatul Abrar milik Hasyim al-Bahraniy juz II hal. 359. Juga dalam kitab Hayatu Amiril Mukminin oleh Muhammad Muhammadiyan juz II hal 239, dan sumber-sumber rujukan lain.

Jadi, menjadi jelas dengan dalil tersebut akan kontradiksi Syi’ah dan kedustaan mereka setelah menjadi jelas bahwa tidak ditemukan sebuah pintu bagi rumah ‘Ali dengan pengakuan mereka selain pelepah korma, yang fungsinya hanyalah untuk menutupi, bukan melindungi; di mana hal ini termasuk perkara yang menjadikan kemustahilan masuknya paku, bahkan ketetapannya di tempatnya juga menjadi mustahil saat ditekan, yang demikian itu karena kerapuhan pelepah korma.

2. Disebutkan dalam syubhat tersebut Fathimah keguguran Janinnya; Muhsin akibat paku yang diklaim masuk ke tubuh Fathimah, dan juga pukulan Umar kepadanya…
Baiklah, kami faham wahai Syi’ah…!

Akan tetapi apa pendapat kalian dengan apa yang datang dalam sumber-sumber rujukan kalian seperti kitab al-Aamaliy oleh as-Shaduq hal. 99-101, dan Biharul Anwar juz 28 hal. 37-39, juz 43 hal 172-173, Irsyadul Qulub hal 295, Jala`ul ‘Uyun Juz 2 hal 186-188, Kitabu sulain bin Qais (dengan tahqiq al-Anshariy) Juz 2 hal 907, dan banyak sumber rujukan lain yang telah meriwayatkan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang beliau bersabda kepada Fathimah Radhiallahu ‘Anha:

إِنَّكِ أَوَّلُ مَنْ يَلْحَقُنِيْ مِنْ أَهْلِ بَيْتِيْ
“Sesungguhnya Engkau adalah orang pertama yang menyusulku dari ahlul baitku.”
Demikian juga hadits ini telah diriwayatkan dari sumber-sumber ahlussunnah.

Sekarang jika Muhsin adalah orang pertama yang mati dari ahlul bait, maka bukankah nubuwat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (berita dari rasulullah) tidak terbukti (meleset/salah)? Dengan yakin tidak, karena kematian Muhsin setelah kematian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini bertentangan dengan nubuwat (kejadian akan datang yang diberitakan oleh Nabi) ini, karena dia menjadi orang pertama yang menyusul Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah kematian beliau, bukan putri beliau; Fathimah Radhiallahu ‘Anha, sebagaimana yang telah diberitakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam!

Maka bagaimana Muhsin mati sebelum ibunya; Fathimah Radhiallahu ‘Anha? Sementara nubuwat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan faidah bahwa orang pertama dari ahlul bait beliau yang menyusul beliau adalah Fathimah Radhiallahu ‘Anha?!

Kami dengan ini menjadikan syi’ah berada dalam kesulitan besar, maka wajib atas mereka untuk memilih salah satu dari dua perkara; boleh jadi bahwa nubuwat Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak benar -wal’iyadzu billah- atau bahwa kisah pemukulan terhadap Fathimah Radhiallahu ‘Anha, dan pengguguran janinnya adalah sebuah kisah dusta yang murni dibuat-buat.

Sesungguhnya saya, dengan pengetahuan saya akan akal-akal Syi’ah yang menyimpang lebih menguatkan bahwa para pendeta mereka akan memilih pilihan yang kedua, karena tidak penting bagi mereka nubuwat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika dibanding dengan kadar kepentingan mereka terhadap terusnya kedengkian dan kebencian antara para sahabat dan ahlul bait. Syi’ah, tidak penting bagi mereka berapa harga yang akan mereka bayar dalam mencela para sahabat, sekalian harga tersebut adalah berupa perbuatan buruk terhadap ahlul bait, yang penting bahwa mereka bisa merealisasikan tujuan-tujuan majusi mereka. Walaa haula walaa quwwata illa billah.

3. Atas dasar asumsi keshahihan riwayat tersebut; bagaimana mungkin ‘Ali Radhiallahu ‘Anhu menikahkan putrinya; Ummu Kultsum untuk ‘Umar bin al-Khaththab Radhiallahu ‘Anhu, sementara Ummu Kultsum adalah putri Fathimah Radhiallahu ‘Anha?!

Apakah masuk akal Ummu Kultsum ridha dan menikah dengan orang yang telah membunuh saudaranya, dan yang menghinakan ayah dan ibunya?!

Bagaimana mungkin al-Hasan dan al-Husain menerima pernikahan ini sementara Umar adalah pembunuh saudara keduanya yaitu Muhsin, sekaligus orang yang menghinakan ayah dan ibu mereka, terutama sekali bahwa keduanya menyaksikan sendiri penghinaan yang menimpa ibu dan ayah mereka?!

Dengan sedikit berfikir, akal akan sampai pada penolakan kisah bikinan ini. akan tetapi barangkali Allah Subhanahu wa Ta’ala menginginkan kisah ini terus berlanjut agar menjadi sebuah dalil dan saksi bahwa syi’ah tidak punya akal.

4. Atas dasar asumsi keshahihan riwayat ini, maka bagaimana ‘Ali Radhiallahu ‘Anhu memberi nama salah seorang putranya dengan nama ‘Umar sementara Umar adalah pembunuh putranya?

Demikian juga al-Hasan memberi nama putranya dengan nama Umar, maka bagaimana al-Hasan memberi nama putranya dengan nama ini sementara dia adalah pembunuh saudaranya, penghina ibu dan ayahnya? Demikian juga ‘Ali Zainul ‘Abidin, juga Musa al-Kazhim, keduanya memberi nama kedua putra mereka dengan nama ‘Umar, dan banyak lagi keturunan Ahlul bait selain mereka.

Ini adalah sebuah bukti atas adanya saling cinta di antara ahlul bait dan ‘Umar Radhiallahu ‘Anhum yang hal itu menggelisahkan Syi’ah. Di mana mereka tidak menginginkan kecuali hubungan di antara mereka berada di atas perkara terburuk yang ada dengan menyebarkan kisah bikinan seperti ini. Dan sepanjang terdapat orang-orang lalai (yang bisa dimanfaatkan) dan membenarkannya, maka mengapa riwayat rusak seperti ini tidak tersebar?!

5. Dan demi amanah ilmiah, saya akan menukilkan penolakan salah seorang ulama Syi’ah, yaitu Muhammad Husain Ali Kasyif al-Ghitha terhadap kisah ini. Dia berkata, “Akan tetapi kejadian pemukulan az-Zahra`, dan penamparan pipinya, termasuk perkara yang hati dan akal ku hampir-hampir tidak bisa menerimanya, dan perasaanku pun tidak bisa puas dengannya. Dikarenakan kaum (bangsa Arab) merasa malu dan tidak ingin mengotori tangannya dengan kelancangan besar ini. 

Bahkan karakter bangsa Arab dan kebiasaan Jahiliyah yang disoroti oleh Syariat Islam, dan ditambah penguatan dan penegasannya adalah melarang dengan keras pemukulan terhadap seorang wanita, atau mengganggunya. Hingga sebagian perkataan Amirul Mukminin yang maknanya adalah, ‘Bahwa seorang laki-laki di masa jahiliyah, jika dia memukul seorang wanita, maka aib itu akan terus ada pada leher dan keturunannya…” (Jannatul Ma`wa, hal. 135)

Meskipun ini adalah salah seorang tokoh mereka dalam kesesatan, tetapi Syi’ah menolak ucapannya. Mereka terus dalam kesesatan hingga masa kita ini. Dan bukti terbesar atas yang demikian adalah pengkafiran ulama Syi’ah terhadap salah seorang ulama mereka pada masa ini, yaitu as-Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah yang wafat pada 2010 M karena penolakannya terhadap kisah bikinan ini. 

Ini berarti bahwa Syi’ah berpegang teguh dengan keshahihan riwayat palsu ini!

Ketika Syi’ah menuduh Ali Radhiallahu ‘Anhu dengan sifat pengecut, itu karena mereka sendiri adalah makhluk Allah yang paling pengecut. Maka saya dari majalah Qiblati menantang orang-orang Syi’ah di dunia secara umum untuk mengajukan kepada kami seorang pahlawan Syi’ah, atau seorang mujahid yang telah berjihad dalam sebuah peperangan, atau salah satu futuhat (penaklukan) sebuah negeri di jalan Allah! Agama Syi’ah, tidak mencetak para pahlawan, akan tetapi hanya mencetak laki-laki yang menyerupai wanita, yang memukuli diri mereka sendiri, menampari pipi-pipi mereka dalam bentuk penyimpangan fitrah yang terburuk. Jika Syi’ah takut menghadapi majalah Qiblati, maka bagaimana mungkin di tengah-tengah mereka terdapat para pahlawan yang menaklukkan berbagai negeri  di jalan Allah, wahai kaum muslimin?!

Setelah bantahan ini, bantahan yang selaras dengan sebuah pembahasan ilmiah ringkas, saya berikan kesimpulan bahwa syubhat ini menjelaskan dengan bukti konkrit bahwa Agama Syi’ah adalah agama menyimpang, yang berdiri di atas pondasi penanaman kebencian dan permusuhan di antara ahlul bait dan para sahabat Nabi. Yang demikian itu demi memecah belah kaum muslimin, serta membelah barisan dan persatuan mereka demi melaksanakan langkah-langkah para pendiri mereka; seorang Yahudi; yaitu ‘Abdullah bin Saba`. Maka selamat bagi mereka dengan peletak dasar agama mereka, selamat bagi kami dengan peletak dasar agama kami; Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Maka cukuplah bagi setiap orang yang berakal untuk mengambil kesimpulan setelah bantahan atas syubhat ini, bahwa agama syi’ah adalah batil, dan tidak mungkin tinggal kecuali dengan membuat keragu-raguan terhadap para sahabat. Sungguh, termasuk aib membiarkan orang-orang seperti mereka untuk mempermainkan orang-orang awam kaum muslimin dan orang-orang bodoh mereka demi merusak agama mereka dengan menanamkan syubhat seperti ini di tengah-tenah mereka, untuk merealisasikan tujuan-tujuan kotor yang diantaranya adalah menggugurkan kewibawaan para sahabat dan ummahatul mukminin dari hati-hati mereka.

Meskipun kami mulai kehilangan angan-angan dengan orang yang mampu menghadapi kami dari golongan Syi’ah, tetapi kami menawarkan tawaran baru bagi setiap tokoh Syi’ah yang mengumumkan kesiapannya untuk menerima dialog, yaitu bahwa majalah Qiblati akan menanggung biaya perjalanan, tempat tinggal, dan konsumsi. Jika mereka ahlul haq (yang berada di atas kebenaran), dan kami ahlul bathil (di atas kebatilan), maka mengapa tidak ada seorang pun dari tokoh mereka yang maju untuk berdialog ilmiah?!

Maaf, wahai Amirul mukminin, atas kedustaan syiah ini… maaf wahai orang kedua yang diberitakan masuk sorga… maaf wahai suami putri Fathimah… maaf wahai orang yang ‘Ali Radhiallahu ‘Anhu mencintaimu, dan rujukan-rujukan Syi’ah telah menjadi saksi atas ucapan-ucapan terindahnya tentangmu… maaf wahai penakluk negeri Persia… maaf wahai orang yang lebih mendahulukan nafkah ahlul bait atas keluargamu sendiri… maaf wahai orang yang ahlul bait memberi nama putra-putra mereka dengan namamu karena kecintaan mereka kepadamu…

Kami memohon kepada Allah agar menjadikan kami sebagai duri dalam kerongkongan setiap orang yang membuat keburukan kepada Islam dan kaum muslimin. (AR)*

Posted By Dzaky Moebarak13.47