Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 April 2014

Doa Untuk Bayi yang Baru Lahir



Pertanyaan:
Ustadz, saya ingin tahu doa untuk mendoakan anak yang baru lahir yang shahih apa? Besarta teks Arab dan terjemahan Indonesianya?
Dari: Neli
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Kita dianjurkan untuk mendoakan anak yang baru lahir diantaranya:
Pertama, memohon keberkahan untuk si anak.
Dari Abu Musa radliallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

وُلِدَ لِي غُلاَمٌ، فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ، فَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ، وَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ، وَدَفَعَهُ إِلَيَّ
“Ketika anakku lahir, aku membawanya ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memberi nama bayiku, Ibrahim dan men-tahnik dengan kurma lalu mendoakannya dengan keberkahan. Kemudian beliau kembalikan kepadaku. (HR. Bukhari 5467 dan Muslim 2145).

Hal yang sama juga dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada putra Asma bintu Abu Bakr, yang bernama Abdullah bin Zubair. Sesampainya Asma hijrah di Madinah, beliau melahirkan putranya, Abdullah bin Zubair. Bayi inipun dibawa ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Asma mengatakan,

ثُمَّ دَعَا بِتَمْرَةٍ فَمَضَغَهَا، ثُمَّ تَفَلَ فِي فِيهِ، فَكَانَ أَوَّلَ شَيْءٍ دَخَلَ جَوْفَهُ رِيقُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ دَعَا لَهُ، وَبَرَّكَ عَلَيْهِ
“..Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minta kurma, lalu beliau mengunyahnya dan meletakkannya di mulut si bayi. Makanan pertama yang masuk ke perut si bayi adalah ludah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau mendoakannya dan dan memohon keberkahan untuknya.” (HR. Bukhari 3909).

Teks Doa Memohon Keberkahan

Tidak ada teks doa khusus yang isinya permohonan berkah untuk anak.
Dalam Fatawa Syabakah Islam dinyatakan,
فليس هناك دليل فيما نعلم يدل على مشروعية قراءة شيء من القرآن، أو الأدعية عندما يولد الطفل، سواء من قبل الأم، أو من قبل الأب، أو من قبل غيرهما
Tidak terdapat dalil – sepengetahuan kami – yang menunjukkan dianjurkannya membaca ayat Al-Quran atau doa tertentu ketika seorang anak dilahirkan. Baik dao dari ibunya, bapaknya, atau doa dari orang lain. [Fatawa Syabakah Islam, di bawah bimbingan Dr. Abdullah Al-Faqih, no. 13605].
Karena itu, kita bisa berdoa dengan bahasa apapun yang kita pahami. Misalnya dengan membaca, Baarkallahu fiik (semoga Allah memberkahi kamu) atau semacamnya.
Kedua, memohon perlindungan dari godaan setan.
Salah satu diantara contoh hal ini adalah apa yang dipraktekkan oleh istri Imran, yang merupakan ibunya maryam. Allah menceritakan kejadian ketika istri Imran melahirkan Maryam,
فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai Dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.” (QS. Ali Imran: 36).
Satu hal yang istimewa, karena doa ibunda Maryam ini, ketika Maryam lahir, dia tidak diganggu setan, demikian pula ketika Nabi Isa dilahirkan. Allah mengabulkan doa ibunya Maryam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ بَنِي آدَمَ مَوْلُودٌ إِلَّا يَمَسُّهُ الشَّيْطَانُ حِينَ يُولَدُ، فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ مَسِّ الشَّيْطَانِ، غَيْرَ مَرْيَمَ وَابْنِهَا
Setiap bayi dari anak keturunan adam akan ditusuk dengan tangan setan ketika dia dilahirkan, sehingga dia berteriak menangis, karena disentuh setan. Selain Maryam dan putranya. (HR. Bukhari 3431). Kemudian Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, membaca surat Ali Imran ayat 36 di atas.
Kita bisa meniru doa wanita sholihah, istri Imran ini. Hanya saja, perlu disesuaikan dengan jenis kelamin bayi yang dilahirkan. Karena perbedaan kata ganti dalam bahasa arab antara lelaki dan perempuan.
a. Jika bayi yang dilahirkan perempuan, Anda bisa baca,
اَللَّهُمَّ إِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
b. Jika bayi yang lahir laki-laki, kita bisa membaca,
اَللَّهُمَّ إِنِّي أُعِيذُهُ بِكَ وَذُرِّيَّتَهُ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Artinya dua teks doa ini sama,
“Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu untuknya dan untuk keturunannya dari setan yang terkutuk.”
Kita juga bisa memohon perlindungan untuk anak dari gangguan setan, dengan doa seperti yang pernah dipraktekkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika mendoakan cucunya: Hasan dan Husain.
Ibnu Abbas menceritakan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammembacakan doa perlindungan untuk kedua cucunya,

أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ
Aku memohon perlindungan dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari semua godaan setan dan binatang pengganggu serta dari pAndangan mata buruk. (HR. Abu Daud 3371, dan dishahihkan al-Albani).
Kita bisa meniru doa beliau ini, dengan penyesuaian jenis kelamin bayi.
a. Jika bayi yang dilahirkan perempuan, Anda bisa baca,
أُعِيذُكِ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ
U’iidzuki …..
b. Jika bayi yang lahir laki-laki, kita bisa membaca,
أُعِيذُكَ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ
U’iidzuka …..
Berbeda pada kata ganti; ‘…ka’ dan ‘…ki’
Allahu a’lam.

Posted By Dzaky Moebarak08.48

Kamis, 20 Februari 2014

Betapa Indahnya Islam

Filled under: ,



Saya dilahirkan di Kairo pada 30 juli 1980, dari kedua orang tua Nasrani. Ayahku, Armon, seorang Katolik Armenia, dan ibuku Evangelis (satu sekte Nasrani). Putri paman ayahku adalah seorang biarawti pada sekolah suster Armenia. Paman dari pihak ibuku adalah seorang pendeta pada salah satu Gereja Evangelis, dan saya memiliki dua orang saudara perempuan yang lebih tua empat tahun dari saya.

Saya hidup dengan kehidupan Nasrani yang fanatik. Sejak tumbuhnya kuku-kuku saya, saya sudah pergi ke gereja setiap hari Ahad, pada hari-hari raya, dan setiap waktu yang saya suka; dimana tidak ada seorang pengawas pun atasnya berkenaan dengan kepergian saya ke Gereja. Sungguh saya sangat senang pergi ke sana, menikmati segala sesuatu yang ada padanya, dari berbagai syi’ar, misa, juga permainan-permainan, camping, dan perjalanan-perjalanan.
Aku pun masuk ke sekolah Nubarian Armenia, yaitu sebuah sekolah yang tidak akan menerima kecuali Kristen Armenia. Jumlah siswa di sekola itu dari yang masih di gendongan hingga tingkat SMA mendekati angka 125 siswa saja pada seluruh jenjang pendidikan. Pekerjaan pertama yang kami lakukan di pagi hari dalam antrian sekolah adalah misa, sementara kami berdiri di barisan kami. Di sekolah itu terdapat sebuah Gereja, dan mayoritas guru disana Bergama Nasrani.
Maka menjadi jelas kiranya bagi para pembaca bahwa saya belum pernah bercampur dengan kaum muslimin kecuali sedikit dari teman-teman saya di desa atau tetangga saya. Bahkan sebagian besar waktu saya, saya habiskan di Gereja. Kala itu saya memberikan pelayanan seperti seorang koster([1]) dalam gereja.
Kondisiku terus seperti itu hingga saya sampai pada jenjang SMA. Pada jenjang ini saya lebih banyak menjalin ikatan dengan Gereja dan para pendeta daripada sebelumnya. Kala itu saya sangat berbahagia dengan hubungan tersebut, karena saya termasuk orang-orang terdekat bagi mereka. Dan jadilah aku melakukan sebagian besar ritual-ritual suci, membaca Injil, membalas pendeta saat dia membaca sesuatu darinya. Ditambah lagi dengan menghadirkan korban, dan khamer untuk ritual misa. (mudah-mudahan Allah melindungi Anda semua darinya)
Permulaan hidayah
Pada suatu hari, saya duduk bersama dengan salah satu teman muslim.
Dia berkata kepada saya, ‘Tidakkah kamu mau masuk Islam?’
Saya jawab, ‘Mengapa saya masuk Islam, dan mengapa engkau tidak masuk Kristen?’
Dia menjawab dengan ungkapan paling keras yang pernah saya dengar, ‘Kalian semua akan berada dalam neraka.”
Betapa kuatnya kalimat tersebut, kalimat yang mengenai saya seperti suara petir, ‘Neraka? Mengapa neraka? Setiap hari saya melakukan perbuatan baik untuk mendekat kepada Tuhan saya, agar saya masuk sorga, kemudian dia berkata bahwa saya nanti akan masuk neraka?!!”
Di saat saya sudah tenang, saya bertanya kepadanya, ‘Mengapa saya, dan seluruh orang-orang Nasrani akan masuk neraka, sementara kalian kaum muslimin akan masuk sorga?’
Maka dia menjawab, ‘Karena kalian mengatakan Trinitas, dan bahwa al-Masih adalah anak Allah, dan berbagai kedustaan atas al-Masih!”
Lalu kukatakan kepadanya, ‘Bagaimana engkau bisa tahu segala sesuatu ini? apakah engkatu telah membaca Injil?’
Dia menjawab, ‘Tidak, akan tetapi kami membaca al-Qur`an kitab suci kami.”
Keraguan, dan keyakinan
Ini juga termasuk perkara menakjubkan yang pernah kudengar. Bagaimana al-Qur`an mengetahui apa yang ada pada agama kami (sebelumnya), dan bagaimana dia mengakui bahwa segala perkara yang kami katakan atas al-Masih adalah kekafiran dan menghantarkan kepada neraka?
Pada saat itu, urusanku menjadi bingung, dan aku pun mulai berfikir sejenak tentang perkara ini. Kemudian aku mulai membaca Injil. Dan untuk pertama kalinya dengan pandangan penuh ilmu yang sebelumnya ada kebutaan pada hati saya. Mulailah saya menemukan berbagai perselisihan dalam penyebutan nasab al-Masih!
Sekali waktu ada Pengakuan ketuhanan, dan sekali waktu ada pengakuan kenabian.
Maka mulailah aku bertanya-tanya, ‘Jadi siapakah al-Masih itu?’ Dia itu seorang Nabi atau putra Allah, ataukah Allah?
Pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada jawabannya.
Mulailah saya meletakkan sebagian pertanyaan-pertanyaan, kemudian saya pergi ke pendeta dengan pertanyaan itu, agar saya mendapatkan jawaban yang memuaskan. Akan tetapi saya tidak menemukan jawaban yang bisa mendinginkan dada saya.
Saya ingat, bahwa suatu kali saya bertanya kepada seorang pendeta, ‘Mengapa Bibel berkata bahwa al-Masih duduk di atas gunung Zaitun berdo’a kepada Allah? Jika dia adalah Allah yang sebenarnya, lantas kepada siapa dia berdo’a? kepada siapa dia sujud?’ Maka dia pun menjawab dengan jawaban-jawaban yang saya tidak memahaminya sedikit pun.’
Kemudian mulailah saya berfikir tentang apa yang dulu kami perbuat di gereja, dari berbagai pengakuan dosa kepada pendeta, demikian pula penyerahan Gelash soft (جلاش طري) yang ditaruh di dalam khamer, kemudian pendeta mengatakan bahwa dua hal ini menjadi darah dan tubuh al-Masih, siapa yang mengambilnya, maka diampuni dosanya dan disucikan dari dalam?!!
Lalu akupun bertanya-tanya, ‘Bagaimana dosa-dosaku diampuni oleh seorang manusia sepertinya dan sepertiku?!’ Dan dia sendiri, kepada siapa dia mengaku dosa? Dan siapa yang akan mengampuninya? Dan bagaimana bisa menjadi darah dan tubuh al-Masih dalam gelas itu? Apakah ini dongeng tahayul ataukah hakikat? Bagaimana bisa mensucikan apa yang ada dalam diri saya, dan diampuni dosa-dosa saya?
Maka mulailah pertanyaan-pertanyaan menjadi banyak dalam diri saya, dan saya tidak menemukan jawabannya. Mulailah saya memutuskan dari diri sendiri; seperti tidak melakukan pengakuan kepada pendeta, karena dia adalah seorang manusia seperti saya, juga tidak mengambil penyerahan, dan saya beriman bahwa al-Masih u adalah seorang nabi, karena dia adalah seorang manusia. Dan Tuhan itu memiliki sifat-sifat sempurna lagi khusus yang menafikan sifat-sifat manusia. Dan mulailah aku membaca Injil tanpa mengatakan Tuhan Yesus dengan nash injil.
Akan tetapi saya mengatakan Yesus al-Masih saja. Sekalipun demikian aku tidak merasakan ketenangan yang kuinginkan, dan aku tidak merasa bahwa ini adalah solusi dalam agama yang kupeluk.
Di saat yang demikian, dan pada suatu masa dari kehidupan saya, suatu hari saya mengulangi pelajaran sekolah di dalam kamar saya di rumah yang terletak persis di belakang masjid. Kala itu berada pada bulan Ramadhan, dan pengeras suara kala itu bekerja setelah shalat Isya’ selama shalat tarawih. Adalah suara imam yang tengah membaca al-Qur`an sampai ke kamar saya. Itu adalah sebuah suara yang lembut lagi indah yang saya bisa merasakan manisnya menyentuh hati saya. Dan saya masih belum mengetahui bahwa itu adalah bacaan al-Qur`an yang mulia.
Di dalam gereja
Kemudian datanglah masa yang Allah melapangkan dada saya padanya untuk Islam. Hari itu adalah hari Ahad, hari kebaktian di dalam Gereja. Saat saya membaca Injil, yaitu sebelum kebaktian sebagai sebuah persiapan untuk membacanya kepada manusia di tengah-tengah kebaktian.
Di tengah persiapan, saya bertanya kepada diri saya, ‘Apakah saya akan mengatakan Tuhan kita Yesus al-Masih? Atau Yesus al-Masih saja? Karena dia adalah seorang Nabi dan bukan tuhan. Akan tetapi jika saya mengatakannya, maka orang-orang yang hadir akan mengetahui bahwa saya melewati kalimat tersebut, akan tetapi bagaimana juga saya harus menyelisihi hati sanubari saya?
Pada akhirnya, saya memutuskan bahwa saya akan membaca Injil apa adanya tanpa perubahan selagi aku membacanya di hadapan manusia, dan aku akan menjadikan perubahan tersebut saat aku membacanya seorang diri.
Dan datanglah waktu pembacaan Injilku di tengah-tengah misa tersebut.
Mulailah saya membaca dengan tegar, sebagaimana yang tertulis sempurna hingga aku berhenti pada kata “TUHAN YESUS AL-MASIH”, maka lisanku tidak mau mengucapkannya. Dan aku tidak merasakan bahwa aku melewati kalimat TUHAN pada saat membaca secara keseluruhan. Maka pendeta pun terkejut dengan kejadian tersebut, lalu memberikan isyarat kepadaku untuk duduk. Aku pun menghentikan bacaan kemudian duduk, akan tetapi aku selesaikan kebaktian kala itu seperti biasa. Hingga setelah kebaktian selesai, aku pergi menuju kamar khusus kami.
Di sanalah pendeta menanyaiku, ‘Mengapa engkau tadi melakukan hal itu? Mengapa engkau tidak membaca Injil apa adanya?
Aku tidak menjawab, dan kukatakan kepadanya, ‘Sesungguhnya aku ingin pergi ke rumah untuk istirahat.’
Aku pun pergi ke kamarku dalam keadaan sangat terguncang; mengapa aku melakukannya? Apa yang terjadi pada diriku?
Sejak hari itu, aku tidur sebelum selesai rutinitas harian membaca Injil sebagaimana sebelumnya. Aku menjadi tidak merasa tenang, tidak dalam kebaktian, tidak juga membaca, bahkan pergi ke gereja.
Aku terus memikirkan keadaanku, sementara kalimat keras yang dikatakan oleh teman muslimku terus terngiang-ngiang di telingaku, ‘Kalian semua berada dalam neraka.’
Jalan menuju keyakinan
Setelah itu, saya bersungguh-sungguh membaca buku-buku perbandingan agama, dan buku-buku Islam yang berbicara tentang kehidupan al-Masih. Maka aku pun mengetahui siapa al-Masih dalam Islam. Aku juga mengetahui apa yang sebelumnya tidak kuketahui, yaitu penyebutan Nabi i dalam Injil dua perjanjian, perjanjian lama dan baru.
Aku juga menemukan bahwa al-Masih dan ibunya g dimuliakan dengna puncak kehormatan di dalam Islam.
Dan bahwa al-Masih adalah seorang Nabi, yang Allah berfirman kepadanya, ‘Jadilah, maka jadilah.’ Dan dia adalah roh dari-Nya. Saat itulah aku menjadi yakin bahwa Injil yang sekarang ada ditanganku adalah telah diubah-ubah, dan banyak sekali kekacauan di dalamnya.
Kemudian aku mengetahui bahwa Islam adalah agama yang hak, dan bahwa Allah I tidak meridhai agama apa pun selain Islam, dan bahwa Islam adalah jalan menuju sorga dan keselamatan dari api neraka yang tidak seorang pun menuju ke sana.
Kemudian saya pergi ke salah satu toko buku, lalu saya membeli sebuah mushhaf agar bisa membacanya. Saat aku membacanya, yang saat itu aku belum memahaminya sedikit pun, akan tetapi demi Allah, aku merasakan ketenangan aneh di dalam dada saya.
Sungguh, dadaku telah lapang dengan agama ini, agama yang Allah meridhainya untuk hamba-hamba-Nya, memulian mereka dan memberikan petunjuk kepada mereka. Maka segala puji bagi Allah di awal, dan segala puji bagi Allah di akhir, dan segala puji bagi Allah selamanya, segala puji bagi Allah atas nikmat Islam, dan cukuplah itu sebagai sebuah kenikmatan.
Termasuk perkara yang mencengangkan juga adalah saat aku beritahu saudari-saudariku dengan keIslamanan, saya temukan mereka telah mendahului saya?! Dan tidak seorang pun dari mereka yang menolak saya. Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan Islam kepada kita semua.
Maka pada hari itu, saya mengucapkan syahadat laa ilaaha illallah muhamadan Rasulullah. Akupun dilahirkan kembali, maka betapa indahnya agama ini, betapa agungnya Ilah yang Maha Tunggal dan satu-satunya, tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, dan tidak ada satu pun yang setara dengan-Nya.
Maka segala puji bagi-Mu wahai sesembahanku, Engkau adalah keperkasaanku, dan Engkau kedudukanku, maka barangsiapa meminta pertolongan dengan meminta kepada-Mu, maka Engkau tidak akan menghampakan orang yang berharap kepada-Mu.
Ya Allah, bagi-Mulah segala puji atas nikmat Islam, dan Iman. Ya Allah, teguhkanlah aku di atas apa yang sekarang aku berdiri di atasnya. Jadikanlah akhir kalimat saya di dunia ini adalah laa ilaaha illallah muhammadun Rasulullah, dan karenanya saya hidup dan mati, dan dengannya saya bertemu dengan-Mu. Semoga shalawat dan salam tetap tercurah kepada penghulu para Rasul, imam para Nabi; Muhammad i, dengan salam yang besar lagu agung hingga hari kiamat.
------------------------------------------------------
[1] Koster adalah orang yang membantu pendeta dalam ritual dan misa.

Posted By Dzaky Moebarak14.50

Kamis, 13 Februari 2014

Baitul Maqdis, Haram asy-Syarif, Temple Mount dan Bait Bani Israel

Filled under: ,

Postingan kali ini terutama untuk menjelaskan kepada kawan-kawan Muslim di Indonesia yang hanya mengenal nama Baitul Maqdis atau Masjidil Aqsa, namun belum mengetahui yang mana yang selalu disebut Masjidil Aqsa atau Baitul Maqdis tersebut. Semoga bermanfaat ...

Raja bani Israel, Sulaiman membangun sebuah tempat ibadah kepada Tuhannya, yang dikenal oleh orang Yahudi dengan nama Bait Salomo atau Bait Sulaiman (bahasa Ibrani: בית המקדש, Beit HaMikdash), juga disebut sebagai Bait Pertamaataupun Haikal Sulaiman, yang menurut Alkitab adalah bait suci pertama agama Yahudi kuno di Yerusalem. Bangunan ini digunakan untuk beribadah dan mempunyai fungsi utama untuk mempersembahkan kurban korbanot. Selama beberapa abad tempat ini menjadi pusat ibadah bangsa Israel.

Ilustrasi Bait Sulaiman


Yerusalem saat itu adalah ibukota Kerajaan Israel Bersatu namun setelah Sulaiman wafat (sekitar 930 SM), sepuluh suku utara memisahkan diri membentuk Kerajaan Israel di utara. Yerusalem kemudian menjadi ibukota Kerajaan Yehuda yang terdiri dari dua suku.

Sumber awal informasi tentang Kuil Pertama adalah Alkitab Ibrani (atau Perjanjian Lama). Menurut sumber-sumber Alkitab, candi ini dibangun di bawah Raja Salomo saat kerajaan Israel masih bersatu.

Dalam Alkitab Ibrani (atau Perjanjian Lama di Alkitab Kristen), yaitu Kitab 1 Raja-raja pasal 6, dicatat bahwa raja Salomo membangun Bait ini selama 7 tahun, dimulai dari bulan ke-2 pada tahun ke-4 pemerintahannya dan selesai pada bulan ke-8 pada tahun ke-11. Catatan-catatan tersebut antara lain: 

Dan terjadilah pada tahun ke-480 sesudah orang Israel keluar dari tanah Mesir, pada tahun ke-4 sesudah Salomo menjadi raja atas Israel, dalam bulan Ziw, yakni bulan yang ke-2, maka Salomo mulai mendirikan rumah bagi TUHAN.

Tahun ke-4 pemerintahan Salomo menurut para ahli arkeologi adalah pada tahun 966 SM. 

Dalam tahun yang ke-4, dalam bulan Ziw, diletakkanlah dasar rumah TUHAN, dan dalam tahun yang ke-11, dalam bulan Bul, yaitu bulan ke-8, selesailah rumah itu dengan segala bagian-bagiannya dan sesuai dengan segala rancangannya; jadi 7 tahun lamanya ia mendirikan rumah itu. 

Tahun ke-11 pemerintahan Salomo menurut para ahli arkeologi adalah pada tahun 960 SM.

dikatakan juga bahwa di Bait Pertama inilah Tabut Musa disimpan. Dan pada tahun 587 SM, Bait Sulaiman ini dihancurkan oleh bangsa Babilonia yang menaklukan kerajaan Yehuda dan menjadikan bangsa israel sebagai budak di babilonia.

Sebenarnya ada perbedaan pendapat mengenai lokasi dimana sebenarnya Bait Sulaiman ini berdiri di kalangan umat yahudi sendiri. Sedangkan dalam Kitab 2 Tawarikh di Alkitab Ibrani atau Perjanjian Lama di Alkitab Kristen, Bait Sulaiman berada di Gunung Moria, yang lokasi pasti gunung ini juga menjadi masalah dalam beberapa perdebatan.

Setelah bangsa israel dibebaskan dari perbudakan oleh Cyrus II, raja Persia yang menaklukkan Babilonia, mereka pun mulai membangun kembali sebuah Bait yang merupakan rekonstruksi dari Bait Pertama di Yerusalem. Bait yang selesai sekitar tahun 516 SM ini kemudian sering disebut sebagai Bait Kedua.

Ilustrasi Bait Kedua


Bait Kedua ini didirikan di atas sebuah bukit yang dikenal dengan nama Bukit Bait atau Temple Mount. Beberapa orang percaya bahwa Bait Kedua dibangun di lokasi dimana Bait Pertama dahulu pernah berdiri. Artinya mereka percaya bahwa Bukit Bait itulah Gunung Moria yang dimaksud dalam alkitab. 

Bait Kedua ini sempat diperluas oleh Herodes I, seorang raja boneka Romawi yang berkuasa di Yudaea (sekitar 74 SM sampai sekitar 1 SM di Yerusalem), sekitar tahun 19 SM. Akhirnya Bait Kedua ini dihancurkan oleh tentara Romawi di bawah pimpinan jenderal Titus (kelak menjadi Kaisar Romawi) setelah pengepungan Yerusalem pada tahun 70 M.

Bait Kedua yang diperluas oleh Herodes



Pandangan Islam

Menariknya, ditaklukkannya bani Israel dua kali oleh dua bangsa yang berlainan dan hancurnya kedua Bait, baik Bait Pertama maupun Kedua, milik bani Israel tersebut diceritakan "mengapa terjadi" nya dengan sangat indah di dalam Al Quran. Yaitu di surat Al Israa' ayat 4-7:

4. Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar."

5. Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana.

6. Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar.

7. Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.

Itulah mengapa Bani Israel ditaklukkan dan Bait Pertama dan Bait Kedua bani Israel juga hancur, yaitu karena Bani Israel melakukan kerusakan dan kejahatan di muka bumi. Dan itu bahkan sudah tertulis dalam kitab Taurat sebelumnya.

Ilustrasi Penghancuran Bait Suci Yerusalem


Kejahatan atau kerusakan apakah yang dilakukan bani Israel? Beberapa ahli tafsir berpendapat bahwa:

Kejahatan/kerusakan pertama yang mereka perbuat adalah menentang hukum Taurat, membunuh Nabi Syu'ya dan memenjarakan Armia. Oleh karena itu Tuhan menghukum mereka dengan ditaklukannya mereka dan dihacurkannya Bait Pertama mereka oleh bangsa Khaldean/Babilon.

Kejahatan/kerusakan kedua adalah membunuh Nabi Zakaria dan bermaksud untuk membunuh Nabi Isa a.s. Akibat dari perbuatan itu, Yerusalem dihancurkan oleh bangsa Romawi.

Umat Muslim meyakini bahwa memang benar ada Bait Allah yang dibangun oleh Nabi Sulaiman, hanya saja mereka menyebutnya dengan Masjid Al-Aqsha atau Baitul Maqdis (Bait Suci).

Selain pernah menjadi kiblat shalat (sebelum beralih ke Ka'bah), Baitul Maqdis atau Masjidil Aqsa ini juga memiliki keistimewaan tersendiri dikalangan umat muslim, karena diawal surat Al Israa' disebutkan bahwa Masjidil Aqsha adalah tempat dimana Rasulullah SAW singgah melakukan shalat sebelum beliau Mi'raj ke Sidratul Muntaha.

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS 17:1)

Masjidil-Aqsa bila diterjemahkan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia, maka ia berarti "masjid terjauh". Istilah "terjauh" dalam hal ini digunakan dalam konteks yang berarti "terjauh dari Mekkah". Selama berabad-abad yang dimaksud dengan Masjid Al-Aqsa sesungguhnya tidak hanya bangunan masjid saja, melainkan juga area di sekitar bangunan itu yang dianggap sebagai suatu tempat yang suci.

Perubahan penyebutan kemudian terjadi pada masa pemerintahan kesultanan Utsmaniyah (kira-kira abad ke-16 sampai awal 1918), dimana area kompleks di sekitar masjid disebut sebagai Al-Haram Asy-Syarif, sedangkan bangunan masjid yang awalnya didirikan oleh Umar bin Khattab disebut sebagai Jami' Al-Aqsa atau Masjid Al-Aqsa


Penemuan lokasi Bait Allah 

Tahun 15 H saat penaklukan Yerusalem, Khalifah Umar Bin Khattab-lah yang menemukan lokasi Batu AsSakhrah dengan bantuan Kaab Al-Ahbar, seorang Imam Tabi'in yang awalnya adalah seorang Rabi Yahudi.

Saat mengunjungi lokasi Bait Allah yang berantakan dan tak terurus, beliau berkata kepada Kaab, "Dimana letak Sakhrah wahai Ka'ab?" lantas Ka'ab menjawab. "Ukurlah beberapa depa dari Wadi Jahannam (Oase Gehenna) Ya Amirul Mu'minin!"

Lantas beliau menemukannya, beliau lalu masuk dari pintu dahulu Rasulullah pernah memasukinya yaitu Babul Magharibah (Bab Ha Mugharabim) dan membersihkan tempat itu dengan selendangnya diikuti oleh umat muslim yang lain. Beliau lalu salat di tempat yang diyakini sebagai tempat salat Nabi Muhammad pada saat Isra Mi'raj, bersama umat muslim yang lain dengan membaca surat Shaad dan surat Al-Israa. Subhanallah.

Baitullah artinya Rumah Tuhan dalam Islam adalah sebutan untuk Ka'bah yang terletak di Masjidil Haram, sedangkan masjid yang jauh/Masjid Al-Aqsa adalah sebutan untuk seluruh kawasan pekarangan kompleks situs suci Al-Haram asy-Syarif pada periode awal muslim di Yerusalem (bukan hanya bangunan fisik masjid yang dibangun belakangan oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan).

Haram asy-Syarif dimana di dalamnya berdiri sebuah masjid (kubah perak kebiruan) 
yang kini bernama masjidil Aqsa dan Kubah Shakhrah (kubah emas) atau Dome of Rock 
dimana terletak batu yang dulunya adalah puncak gunung Moria


Khalifah Umar bin Khattab, yang pertama kali menemukan lokasi sesuai sifat-sifat yang digambarkan Nabi Muhammad kepadanya. Abdul Malik bin Marwan kemudian membangun Kubah Shakhrah atau Dome of Rock yang menaungi Ash-Shakhrah (batu yang terletak pada puncak Bukit Moria) yang konon pernah menjadi tempat berpijak Nabi Muhammad ketika mi'raj.

Ash-Shakhrah yang terdapat di dalam Dome Of Rock


Umar kemudian mendirikan sebuah rumah ibadah kecil di sudut sebelah selatan area tersebut. Ia secara berhati-hati menghindarkan agar batu Ash-Shakhrah tidak terletak di antara masjid itu dan Ka'bah, sehingga umat Islam hanya akan menghadap ke arah Mekkah saja ketika mereka salat.

Kubah Shakhrah atau Dome of Rock dari Luar


Inilah yang saat ini bernama Masjid Al Aqsa


Pada saat itu bangunan masjid masih sederhana pada umumnya hanya berupa lapangan luas dengan dinding tanpa atap kecuali pada bagian pengimaman yang beratapkan daun-daun kurma, jauh berbeda dengan gambaran masjid saat ini.

Pada dasarnya setiap masjid adalah Rumah Tuhan (Bayt Allah), sehingga masjid biasanya dinamakan dengan nama-nama Allah misalnya Baitur-Rahman (Rumah Sang Maha Penyayang], Baitus-Salam (Rumah Sang Maha Pendamai) dan sebagainya.



Pembangunan Kembali Bait Ketiga 

Sejak dihancurkannya Bait Kedua pada tahun 70 M., orang Yahudi terus berdoa agar Tuhan mengizinkan mereka membangunnya kembali. Doa ini adalah bagian resmi dari doa-doa Yahudi tiga kali sehari.

Kaisar Romawi Yulianus (331-363) pernah merencanakan, namun kemudian dibatalkan, untuk mengizinkan orang-orang Yahudi membangun kembali "Bait Suci Ketiga", sebagai bagian dari programnya di seluruh kekaisaran untuk memulihkan/menghidupkan kembali agama-agama setempat.

Ada alasan untuk menduga bahwa Yulianus ingin membangun kembali "Bait Suci Ketiga" untuk tujuannya sendiri yaitu mengangkat dirinya menjadi dewa, dan bukan untuk peribadahan menyembah Tuhan orang Yahudi. Rabi Hilkiyah, salah seorang rabi terkemuka pada masa itu, menolak uang Yulianus, dengan mengatakan bahwa orang non Yahudi tidak boleh ikut serta di dalam pembangunan kembali bait suci. 

Untunglah saat ini dikalangan yahudi sendiri terjadi perdebatan mengenai perlu tidaknya dibangun kembali Bait Ketiga di Yerusalem ini.

Yudaisme Ortodoks percaya dan mengharapkan bahwa Bait Ketiga akan dibangun kembali dan ibadah kurban, yang dikenal sebagai korbanot akan kembali dipraktekkan dengan pembangunan kembali Bait yang ketiga.

A hingga C adalah tempat yang diyakini dimana Bait Kedua pernah berdiri, 
sedangkan B adalah Kubah Shakhrah


Yudaisme Konservatif telah memodifikasi doa-doa mereka. Buku-buku doa mereka mengharapkan pemulihan Bait Allah, tetapi tidak memohon dipulihkannya kurban binatang. Kebanyakan naskah yang terkait dengan kurban digantikan dengan ajaran Talmud bahwa perbuatan baik kini berfungsi sebagai penebus dosa.

Dalam doa utama, Amidah, ungkapan Ibrani, na'ase ve'nakriv (kami akan mempersembahkan dan mengurbankan) kini diubah hingga berbunyi asu ve'hikrivu (mereka dipersembahkan dan dikurbankan), hingga menunjukkan bahwa kurban binatang adalah praktek pada masa lampau. Permohonan agar "kurban api-apian Israel" diterima pun dihapuskan.

Yudaisme Reformasi tidak menuntut dipulihkannya lembaga kurban ataupun pembangunan kembali Bait, meskipun sebagian buku doa kelompok ini mulai beralih kepada pengharapan pembangunan kembali Bait Allah sebagai suatu pilihan. 

Dan alasan yang mungkin paling utama dari belumnya Bait Ketiga dibangun hingga kini, adalah Zionis Israel takut jika mereka melakukan itu, maka negara-negara arab serta beserta muslim seluruh dunia akan bersatu melawan mereka. Ya, mereka lebih suka umat muslim dan bangsa arab terpecah belah seperti saat ini, meskipun sebenarnya mereka juga berpecah belah.



Status Kepemilikan Saat Ini

Kepemilikan Masjid Al-Aqsa merupakan salah satu isu dalam konflik Israel-Palestina. Israel mengklaim kekekuasaan atas masjid tersebut dan juga seluruh Bukit Bait Suci, tetapi Palestina memegang perwalian secara tak resmi melalui lembaga wakaf. Selama negosiasi di Pertemuan Camp David 2000, Palestina meminta kepemilikan penuh masjid ini serta situs-situs suci Islam lainnya yang berada di Yerusalem Timur.

Sementara semua warganegara Israel yang muslim diperbolehkan untuk masuk dan beribadah di Masjid Al-Aqsa, Israel pada waktu-waktu tertentu menetapkan pembatasan ketat akses masuk ke masjid untuk orang Yahudi, muslim Palestina yang tinggal di Tepi Barat atau Jalur Gaza, atau pembatasan berdasarkan usia untuk warga Palestina dan warganegara Israel keturunan Arab, seperti memberi izin masuk hanya untuk pria yang telah menikah dan setidaknya berusia 40 atau 50 tahun.

Wanita Arab kadang-kadang juga dibatasi sehubungan dengan status perkawinan dan usia mereka. Alasan Israel untuk pembatasan tersebut adalah bahwa pria Palestina yang berusia tua dan telah menikah cenderung "tidak menyebabkan masalah", yaitu bahwa secara keamanan mereka lebih tidak beresiko.



Penggalian

Beberapa penggalian di wilayah Masjid Al-Aqsa terjadi sepanjang tahun 1970-an. Tahun 1970, pemerintah Israel memulai penggalian intensif langsung di bawah masjid pada sisi selatan dan baratnya. Pada tahun 1977, penggalian berlanjut dan sebuah terowongan besar dibuka di bawah ruangan ibadah wanita, serta sebuah terowongan baru digali di bawah masjid, mengarah dari timur ke barat pada tahun 1979.

Selain itu, Departemen Arkeologi yang berada di bawah Kementerian Agama Israel, juga menggali sebuah terowongan di dekat sisi barat masjid pada tahun 1984.


Pada bulan Februari 2007, Departemen tersebut memulai situs penggalian untuk mencari peninggalan arkeologi di sebuah lokasi di mana pemerintah ingin membangun kembali sebuah jembatan penyeberangan yang runtuh. Situs ini berjarak 60 meter dari masjid.

Penggalian memicu kemarahan di banyak negara dunia Islam, dan Israel dituduh telah mencoba menghancurkan pondasi masjid. Ismail Haniya, saat itu Perdana Menteri Otoritas Nasional Palestina dan pemimpin Hamas, menyerukan Palestina untuk bersatu dalam menentang penggalian, sedangkan Fatah menyatakan bahwa mereka akan mengakhiri gencatan senjata mereka dengan Israel. Israel membantah semua tuduhan tersebut, dan menyebutnya sebagai hal yang "menggelikan".

Hingga saat ini Seruan untuk pembangunan kembali Bait Ketiga tetap terus dikumandangkan oleh sebagian orang-orang Israel.

Source: http://versesofuniverse.blogspot.com

Posted By Dzaky Moebarak09.11